MEDAN – Sebuah ironi pahit kembali terungkap dari balik tirai peredaran narkotika di Sumatra Utara. Satresnarkoba Polrestabes Medan berhasil menggagalkan rencana pernikahan seorang pemuda yang didanai dari jalan haram.
MF (24), warga Dusun III, Desa Bandar Setia, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang, harus berurusan dengan hukum bukan karena cinta, melainkan karena ambisi yang menghalalkan segala cara.
Alih-alih sibuk mencetak undangan, MF justru sibuk menimbang sabu. Penangkapan pria muda ini menjadi sorotan bukan hanya karena barang bukti yang disita, tetapi juga motif di baliknya yang memilukan terdesak biaya pernikahan.
Tim 6 Unit 2 Satresnarkoba Polrestabes Medan meringkus MF pada Kamis (3/9/2026) sore, setelah masyarakat sekitar resah dengan aktivitas mencurigakan di kawasan tersebut.
Penangkapan MF tidak berjalan mulus. Bak adegan film aksi, petugas di lapangan mendapat perlawanan sengit.
MF yang merasa terpojok berusaha mati-matian melarikan diri, memanfaatkan celah di lahan kosong. Namun, kesigapan tim lapangan membuahkan hasil.
Baca Juga : Perantau Riau Ditangkap di Batang Kuis: Bisnis Sabu Rp300 Ribu Sehari, 3,86 Gram Disita
Yang lebih mengejutkan, pihak keluarga turut ambil bagian dengan berupaya memprovokasi warga untuk menghalang-halangi petugas saat membawa MF.
“Dalam proses penangkapan ini, kami sempat mendapat perlawanan dari pelaku dan pihak keluarga. Berkat kesigapan tim, kami berhasil mengendalikan keadaan,” ungkap Kasatresnarkoba Polrestabes Medan, AKBP Rafli Yusuf Nugraha dalam keterangannya, Sabtu (12/9/2026).
Dari tangan MF, polisi menyita barang bukti yang cukup fantastis untuk ukuran pengedar pemula: dua paket sabu siap edar dan 53 butir pil ekstasi.
Kepada petugas, MF mengaku telah terjun ke bisnis haram ini selama satu bulan terakhir. Pengakuannya sungguh memilukan; ia mengaku nekat karena kebutuhan biaya tambahan untuk pernikahannya yang akan berlangsung dalam waktu dekat.
“Pelaku ini nekat menjual narkoba untuk menambah biaya pernikahan karena dalam waktu akan menikah,” tambah Rafli.
Motif ini menjadi cerminan betapa desakan ekonomi dan tuntutan sosial bisa menjerumuskan seseorang ke jurang kejahatan.
Kasus ini tidak berhenti pada MF. Polisi kini tengah memburu pemasok narkoba kepada pelaku. Identitas pemasok disebut sudah dikantongi.
“Pemasok narkoba sudah kami kantongi identitasnya dan tim sedang melakukan pengejaran. Kami pastikan, pelaku narkoba tidak akan lolos,” pungkas Rafli.
Kisah MF adalah potret buram dari realitas sosial di sekitar kita. Di balik narasi romantis tentang pernikahan, tersimpan tekanan ekonomi yang nyata.
Namun, menjadikan narkoba sebagai solusi adalah pilihan yang fatal. Alih-alih mendapatkan restu dan masa depan, MF justru harus merayakan hari pernikahannya di balik jeruji besi. Kasus ini menjadi pelajaran berharga bahwa cinta sejati tidak dibangun di atas fondasi kejahatan. (FD)