MEDAN — Siapa sangka, julukan “kota sejuta lubang” yang selama bertahun-tahun membayangi Medan kini mulai luntur. Bukan karena sulap, melainkan kerja nyata yang dikomunikasikan secara masif melalui media sosial.
Pemerintah Kota Medan melalui Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) mengubah strategi komunikasi publik dengan menjadikan media sosial sebagai senjata utama publikasi pembangunan.
Kepala Dinas Kominfo Medan, Arrahmaan Pane, mengungkapkan hal ini saat menjadi narasumber dalam Uji Kompetensi Wartawan Radio (UKWR) Angkatan 50 dan 51 LPP RRI Korwil XVI di Ruang Serbaguna RRI Medan, Rabu (12/8/2026).
Perubahan pola konsumsi informasi menjadi pemicu utama transformasi ini. “Sekarang trennya masyarakat melihat berita hanya dengan handphone. Tren membaca surat kabar sudah jauh ketinggalan. Karena itu, kami fokus mengaktifkan penyampaian informasi melalui media sosial yang ada,” tegas Arrahmaan.
Bukan sekadar posting dokumentasi kegiatan. Setiap konten yang diunggah harus memenuhi prinsip 5W+1H — masyarakat perlu tahu apa yang dikerjakan pemerintah, siapa yang terlibat, di mana lokasinya, dan apa hasilnya.
Dinas Kominfo bahkan membimbing jajaran Pemko Medan dalam memproduksi konten, mulai dari penyusunan narasi, pengambilan foto, hingga pembuatan video.
Baca Juga : Anggota DPRD: Penertiban Jangan Sekadar Tayangan Medsos, Harus Berdampak Nyata pada PAD
Salah satu contoh nyata adalah publikasi rutin perbaikan jalan dan drainase. Dengan konsistensi mengunggah progres pembangunan, masyarakat bisa melihat langsung pekerjaan pemerintah di lapangan. Stigma negatif perlahan terkikis, digantikan oleh kepercayaan bahwa ada perubahan nyata.
Arrahmaan mengakui tidak semua komentar warganet ditanggapi — kritik negatif tanpa substansi biasanya diabaikan. Namun, setiap aduan konkret langsung ditindaklanjuti.
Contohnya, ketika warga melaporkan lampu jalan mati, laporan tersebut langsung di-screenshot dan diteruskan ke Dinas Perhubungan.
“Saya sampaikan langsung kepada kepala dinasnya, dan biasanya dalam 1–2 hari pengerjaan langsung dilakukan,” ujar Arrahmaan.
Kecepatan respons ini membangun kepercayaan publik. Buktinya? Saat awal menjabat, pengikut Instagram Pemko Medan hanya sekitar 3.000–5.000.
Kini, jumlahnya melonjak drastis menjadi 116.000 pengikut tumbuh secara organik tanpa pembelian followers. Angka ini menunjukkan bahwa masyarakat percaya dan mengikuti kanal resmi pemerintah sebagai sumber informasi terpercaya.
Media sosial hanyalah bagian dari strategi besar. Pemko Medan juga menyebarkan informasi melalui videotron, website, media cetak, mobil siaran keliling, dan infografik.
Bahkan, platform seperti Instagram dan TikTok digunakan dengan pola komunikasi dua arah yang aktif. Pendekatan ini sejalan dengan komitmen keterbukaan informasi publik dan penerapan Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE).
Apa yang dilakukan Dinas Kominfo Medan adalah proof of concept bahwa komunikasi publik yang baik bisa mengubah citra sebuah kota. (Rel)