Benarkah Pintu Tol Dibuka, Pelaku UMKM Langkat Mati Pelan – pelan?

248

LANGKAT – Tol Berjalan, UMKM mati pelan – pelan. Ini menjadi tema FGD yang diselenggarakan KAHMI Langkat di Ruang Pola Kantor Bupati Langkat, kemarin.

Diskusi ini dilakukan untuk memberikan saran dan sama sama memikirkan nasib yang menimpa para pelaku UMKM yang kerap berjualan di jalan lintas Medan – Banda Aceh. Dimana begitu pintu tol dibuka, maka tidak ada lagi pembeli yang singgah.

Ketua KAHMI Langkat, Hendro mengatakan, hal ini akan menjadi persoalan kedepan. Sebab, sudah ada contoh bagaimana nasib para pelaku UMKM di kawasan Pasar Bengkel, Perbaungan. Situasi inilah yang menjadikan diskusi ini digelar. Terlebih lagi, Plt Bupati Langkat, Syah Afandin dianggap peduli terhadap nasib pelaku UMKM.

“Saya salah satu pelaku UMKM. Saya owner Keripik Cinta. Saya memiliki 350 karyawan yang menggantungkan nasibnya pada usaha itu. Kita sudah punya contoh situasi yang terjadi di Pasar Bengkel. Semoga tidak terjadi di kita,” katanya.

Kepala Dinas Perindustrian Langkat, Ikhsan Aprija yang menjadi narasumber dalam diskusi itu mengatakan, pembangunan jalan tol Binjai – Pangkalan Berandan memangkas 11 kecamatan. Dari 11 kecamatan otu terdapat, 10.000 pedagang atau UMKM yang terkena imbasnya. Apabila hanya rest area yang di tawarkan oleh pihak HKI tentunya tidak cukup. Untuk itu, Pemkab Langkat, pemprovsu akan berusaha menyiapkan ruang yang lain untuk para pelaku UMKM yang tidak ter-cover ini nantinya.

“Kami mohon kepada pihak HKI selalu pengelola jalan tol untuk sama sama membantu dan memikirkannya” ucapnya. Sejauh ini pihaknya juga telah melakukan pembinaan terhadap pelaku UMKM ke arah e -commers. Selain itu diberikan pembekalan untuk menyentuh dunia ekspor. Bahkan, mereka telah membuat sentra dodol.

Sementara itu, Plt Bupati Langkat, Syah Afandin dalam kesempatan itu menuturkan, bicara jalan tol di satu sisi memberikan kemudahan transportasi. Sedangkan di sisi lainnya bicara nasib para pelaku UMKM yang selama ini berjualan di pinggiran jalan lintas.

Dijelaskannya, tentunya di jalan tol tersebut akan disiapkan rest area. Ini membuktikan tetap memberikan kesempatan bagi pelaku UMKM yang terdampak tetap berjualan. Dirinya mencontohkan di Serdang Bedagai. Tetap ada solusi diberikan. “Tapi, apakah yang berjualan itu yang terdampak atau tidak, saya tidak tahu. Tapi tetap diberikan ruang bagi pelaku UMKM,” katanya.

Untuk itulah dirinya menyarankan harus ada teamwork yang saling berkoordinasi untuk berbuat sesuatu yang membuat mereka singgah. Tidak hanya sekadar rest area. “Harus dengan satu komitmen. Ini persoalan tinggal bagaimana kita membuat satu formulasi. UMKM itu adalah tanggungjawab moral saya, ketika UMKM itu mati artinya saya gagal,” tegasnya.

Manager Teknik Hutama Karya, Alimasur Jauhari menjelaskan, gambaran panjang rest area Tol Binjai – Pangkalan Brandan sekitar 57,2 km terbentang antara Binjai sampai Pangkalan Brandan. Rest area sisi kanan maupun kiri tersedia bangunan masjid, toilet, ruang UMKM besar dan UMKM kecil. UMKM kecil memiliki 15 ruangan. Sedangkan UMKM besar memiliki 27 ruangan. Total ada 84 ruangan untuk sisi kiri dan sisi kanan,” katanya.

Berdasarkan PP No17 /2021, ketersediaan UMKM minimal 30%. Namun, pihak pengelola memprioritaskan pelaku UMKM 80%. Bahkan ada yang 100% UMKM. (KM)

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com