Kisah Abadi Sang Wali Agung: Syekh Ahmad ar-Rifa’i, Pendiri Tarekat Rifa’iyyah yang Penuh Karomah

118

MEDAN – Dalam gemerlapnya peradaban Islam pada abad ke-12 Masehi, muncul seorang tokoh spiritual yang legendaris: Syekh Ahmad ar-Rifa’i, sang pendiri Tarekat Rifa’iyyah.

Beliau bukan sekadar ulama biasa, melainkan seorang Sayyid keturunan langsung Nabi Muhammad SAW melalui Imam Husain, dan diakui sebagai salah satu dari empat Wali Quthub dunia.

Julukannya yang megah – Abul Abbas, Syaikh Al-Kabir, hingga “Bapak Anak Yatim” – mencerminkan kebesaran hati dan pengaruhnya yang mendalam hingga kini.

Lahir yatim pada tahun 512 H (1118 M) di desa Ummu Ubaidah, Irak, Syekh Ahmad tumbuh di bawah asuhan pamannya yang juga seorang sufi besar. Sejak kecil, kecerdasannya luar biasa, hafal Al-Qur’an di usia tujuh tahun, menguasai fiqih mazhab Syafi’i, dan pada usia 20 tahun dijuluki “Abul Alamien” – pemegang dua bendera ilmu zahir dan batin.

Beliau mendirikan Zawiyah di kampung halamannya, yang menjadi pusat ilmu dikunjungi ribuan murid dari berbagai penjuru dunia Islam.

Dakwahnya penuh kelembutan menekankan zuhud, taqwa, dzikir kepada Allah, dan pelayanan kepada yang lemah. Karyanya yang abadi, seperti Al-Burhanu Al-Muayyid tentang tauhid dan At-Thariqah ila Allah tentang jalan tasawuf, masih menjadi rujukan hingga hari ini.

Tarekat Rifa’iyyah yang beliau dirikan tersebar luas ke Mesir, Suriah, Turki, bahkan Indonesia, dengan ajaran berbasis Al-Qur’an dan Sunnah yang kuat.

Namun, yang membuat namanya abadi adalah karomah-karomah luar biasa yang diceritakan secara mutawatir oleh para ulama besar seperti Imam as-Suyuthi dan ad-Dzahabi.

Yang paling ikonik ialah saat ziarah ke Madinah bersama puluhan ribu pengikut, beliau memberi salam di makam Rasulullah SAW dan berkata, “Assalamu’alaika wahai kakekku.” Jawaban pun datang dari dalam kubur: “Wa’alaikumussalam wahai putraku.” Kemudian, dengan bait puisi penuh kerinduan, beliau memohon mencium tangan Baginda Nabi dan tangan nuraniyah Rasulullah muncul, diciumnya di hadapan ribuan saksi mata.

Karomah lain termasuk menyembuhkan penyakit, menghentikan bencana alam, hingga berinteraksi dengan malaikat semua dengan izin Allah SWT, sebagai bukti kedekatan seorang wali kepada Sang Pencipta.

Beliau wafat pada 576 H (1182 M), dimakamkan di Ummu Ubaidah yang kini menjadi tempat ziarah suci. Kisah Syekh Ahmad ar-Rifa’i mengingatkan kita bahwa tasawuf sejati adalah perpaduan ilmu, amal, dan cinta kepada Allah serta Rasul-Nya. Warisannya terus hidup melalui jutaan pengikut tarekatnya di seluruh dunia.

Nah, kisah Wali Qutub Syekh Abdul Qadir Al Jaelani sudah kita kupas sebelumnya. Tentu ada Wali Qutub lainnya yang menarik dan menjadi inspirasi umat muslim di dunia. Pantengin terus up date nya di www.kitamedan.com ya gaes…!! (Red)

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com