Mengungkap Misteri Isra Miraj Melalui Kacamata Fisika Modern: Buraq sebagai Energi Cahaya?
JAKARTA – Peristiwa Isra Miraj yang diperingati umat Islam setiap tahun bukan sekadar kisah spiritual. Perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, lalu naik ke Sidratul Muntaha dalam satu malam, kini dikupas melalui pendekatan sains modern. Bagaimana fisika menjelaskan mukjizat ini?
Isra (perjalanan horizontal) dan Miraj (kenaikan vertikal) sering digambarkan dengan kendaraan bernama Buraq, yang secara bahasa berarti “kilat”.
Dalam berbagai manuskrip kuno, Buraq digambarkan sebagai makhluk berwujud kuda bersayap dengan kepala manusia. Namun, penelitian terbaru justru menawarkan perspektif revolusioner: Buraq adalah manifestasi energi cahaya murni.
Sebuah studi dalam Academic Journal of Islamic Studies (2020) yang dilakukan oleh Hismatul Istiqomah (Universitas Negeri Malang) dan Muhammad Ihsan Sholeh (Universitas Negeri Jember) mengaitkan Buraq dengan teori anihilasi dalam fisika kuantum.
Anihilasi adalah reaksi tumbukan antara materi dan antimateri yang menghasilkan energi sangat besar—seperti pada pembentukan sinar gamma.
Menurut penelitian tersebut, tubuh fisik Nabi Muhammad SAW (materi) mengalami proses anihilasi dengan kehadiran malaikat Jibril (yang dapat dipandang sebagai antimateri), sehingga berubah menjadi energi murni bernama Buraq.
Dalam bentuk ini, perjalanan dengan kecepatan cahaya menjadi mungkin, sesuai dengan persamaan E=mc² Einstein yang menyatakan kesetaraan massa dan energi.
Proses sebaliknya, yaitu materialisasi, menjelaskan bagaimana Nabi Muhammad SAW dapat kembali ke wujud fisiknya usai peristiwa tersebut. Ini menjawab pertanyaan bagaimana beliau tetap dapat berinteraksi dengan umat setelah mengalami transformasi dahsyat tersebut.
Penjelasan ini tidak dimaksudkan untuk mereduksi makna iman, melainkan menunjukkan bahwa mukjizat dalam Islam dapat selaras dengan hukum alam yang terus digali oleh sains.
Ternyata, konsep perjalanan melintasi dimensi dan waktu tidak hanya ada dalam fiksi ilmiah, tetapi juga telah disebutkan dalam sejarah spiritual Islam.
Dengan memahami narasi ini, kita diajak untuk melihat mukjizat tidak hanya sebagai keyakinan, tetapi juga sebagai inspirasi untuk terus menjelajahi ilmu pengetahuan. Isra Miraj bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan pintu masuk bagi dialog sains-spiritualitas yang semakin relevan di era modern. (DTC)