Janji 11 Bulan Bobby Nasution di Ujung Nias: Jembatan Idano Noyo Berdiri, Ratusan Miliar Mengalir ke Pulau Emas
NIAS BARAT – Malam itu, ribuan warga Nias Barat tak mau pulang. Mereka memadati Kecamatan Mandrehe dengan sorak dan lampu ponsel menyala-nyala.
Bukan sekadar pawai, tapi euforia yang tertahan sejak Maret 2025 saat Jembatan Idano Noyo putus diterjang banjir. Rabu (11/2/2026), Gubernur Sumatera Utara, Muhammad Bobby Afif Nasution, akhirnya menebus janji jembatan baja sepanjang 95 meter itu diresmikan.
Jembatan tipe A ini bukan sekadar struktur baja senilai Rp46,7 miliar. Bagi masyarakat Nias, jembatan ini adalah urat nadi yang menyambung hidup. Selama setahun terakhir, warga harus bergantung pada sampan untuk menyeberang.
Biaya ongkos anak sekolah membengkak, sayur layu sebelum sampai pasar, dan waktu tempuh membunuh produktivitas. Kini, semua itu berakhir.
“Banyak yang nakut-nakuti. Bilang masa jabatan habis, jembatan tak siap. Anggaran katanya tak cukup. Eh, awal 2026 ini sudah bisa dipakai,” ujar Bobby disambut gemuruh tepuk tangan.
Bukan hanya jembatan yang dibenahi. Akses jalan provinsi Gunungsitoli–Mandrehe sepanjang 50 km juga diupgrade aspal mulus.
Hasilnya terasa drastis dari sebelumnya butuh dua jam perjalanan darat, kini warga bisa tiba dalam waktu kurang dari satu jam. Konektivitas Nias Barat dan Nias Selatan pulih total.
Christina Gulo, pedagang kebutuhan sehari-hari, tak bisa menyembunyikan rasa syukurnya.
“Omzet saya naik 50 persen. Orang makin banyak lewat. Anak saya juga nggak perlu bayar uang sampan tiap hari. Dulu dibilang orang kampung sini tertinggal, sekarang kami setara,” katanya dengan mata berkaca.
Jembatan ini menjadi simbol dari komitmen pemerataan pembangunan yang kerap hanya tinggal jargon. Tahun 2025 saja, Pemprov Sumut mengucurkan sekitar Rp250 miliar untuk Kepulauan Nias.
Bukan sekadar angka. Ini pertama kalinya dalam satu dekade terakhir, Nias mendapat alokasi sebesar itu di luar dana desa dan transfer pusat.
“Jangan bilang terima kasih. Ini kewajiban kami. Kami justru berterima kasih karena pemerintah daerah bantu kelancaran di lapangan,” kata Bobby, merespons sambutan haru Bupati Nias Barat, Eliyunus Waruwu.
Tidak berhenti di sini. Tahun depan, Rp300 miliar kembali disiapkan untuk Nias. Fokusnya tak cuma jalan dan jembatan, tapi juga sektor pendidikan dan kesehatan yang selama ini timpang. “Pemerataan bukan pemindahan kemiskinan, tapi membuka peluang baru di daerah,” tegas Bobby.
Acara peresmian berlangsung sederhana tapi khidmat. Selain Eliyunus, tampak hadir Bupati Nias Yaatulo Gulo, jajaran Forkopimda, tokoh adat, serta ratusan masyarakat yang sejak siang sudah berdatangan dengan sepeda motor dan becak.
Mereka datang bukan sekadar menyaksikan seremoni, tapi menjadi saksi bahwa Nias tak lagi di pinggiran.
Di malam yang hangat itu, lampu-lampu jembatan menyala terang. Bukan hanya menerangi aspal dan baja, tapi juga harapan yang selama ini meredup.
Jembatan Idano Noyo bukan lagi cerita tentang banjir dan keterlambatan. Ia adalah bukti: pembangunan tak harus selalu dimulai dari pusat. Ia bisa lahir dari komitmen yang dirawat dan janji yang ditepati. Kini, Nias Barat kembali terhubung. Fisik dan rasa. (Rel)