Flexing Culture Diungkap: Motif dan Dampaknya

65

MEDAN – Fenomena flexing culture atau budaya pamer semakin marak di ruang publik, terutama di media sosial.

Flexing merujuk pada perilaku menonjolkan kekayaan, barang mewah, gaya hidup tinggi, atau pencapaian tertentu dengan tujuan memperoleh pengakuan, perhatian, atau status sosial.

Para ahli sosial menyebut flexing sebagai tren yang berkembang pesat di kalangan remaja hingga dewasa muda, seiring kemudahan akses media digital.

Flexing dapat terlihat dari unggahan kendaraan mewah, liburan eksklusif, koleksi barang branded, hingga gaya hidup yang tidak sesuai kondisi finansial sebenarnya.

Karakter pelaku flexing umumnya ditandai kebutuhan kuat untuk diakui, rasa tidak aman terhadap pencapaian diri, serta kecenderungan membangun citra yang berbeda dari keadaan sebenarnya.

Sebagian pelaku juga menunjukkan perilaku kompetitif ekstrem dan ingin terlihat lebih unggul dibanding lingkungannya.

Bagi sebagian kasus, flexing dilakukan untuk menutupi ketidakstabilan ekonomi atau masalah personal lainnya.

Flexing culture berdampak signifikan pada kehidupan sosial. Di tingkat individu, perilaku ini dapat memicu tekanan finansial, utang konsumtif, hingga hilangnya identitas diri karena terlalu fokus pada citra luar.

Di lingkungan sosial, flexing memicu kecemburuan sosial, menurunkan empati, serta menciptakan standar hidup palsu yang sulit dicapai.

Di media sosial, fenomena ini memperbesar risiko social comparison atau perbandingan hidup secara tidak sehat. Para peneliti menyebut budaya ini dapat mendorong perilaku konsumtif, depresi ringan hingga berat, serta ketidakpuasan hidup akibat tekanan untuk terlihat sempurna.

Pakar sosiologi menilai solusi mengatasi flexing culture dimulai dari edukasi literasi digital dan pemahaman tentang kesehatan mental.

Penguatan nilai kesederhanaan, kejujuran, dan penerimaan diri dianggap menjadi langkah penting untuk menekan perilaku pamer berlebihan.

Selain itu, penggunaan media sosial secara bijak diperlukan agar masyarakat tidak terjebak persepsi palsu tentang kesuksesan.

Flexing disebut sebagai salah satu fenomena sosial modern yang perlu diwaspadai karena tidak hanya memengaruhi perilaku konsumsi, tetapi juga membentuk pola interaksi sosial di masyarakat. (RS)

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com