DI TENGAH duka dan reruntuhan, Gubernur Sumatera Utara, Bobby Nasution, memilih untuk berdiri tegak. Bukan tanpa kesedihan, tetapi karena ia percaya di saat bencana, yang dibutuhkan bukan air mata, tetapi tindakan nyata.
“Kalau nangis, nanti kita dibilang drama lagi. Kita dan masyarakat optimis bangkit. Yang penting, kita pastikan langkah ke depan, terutama sikap kita terhadap perusak hutan. Tutup saja,” ujar Bobby tegas saat tiba di Lanud Soewondo, Medan, awal Desember lalu.
Pernyataan itu bukan sekadar kata-kata. Ia buktikan dengan kesigapan sejak hari pertama bencana melanda. 28 November 2025, ketika jalur darat terputus, Bobby terbang ke Tapteng begitu jalur udara dinyatakan aman.
Di posko pengungsian pertama yang dilihatnya, raut wajahnya menggambarkan kesedihan yang ditahan. Tapi tangannya terbuka, membalas setiap pelukan dan mendengarkan setiap keluhan warga yang terdampak.
Ia langsung bergerak menata posko yang tak layak untuk lansia dan balita, menerjunkan bantuan logistik, memerintahkan evakuasi warga yang masih terjebak di Tukka, dan membuka akses darurat untuk distribusi bantuan. Langkah cepat yang justru dibayangi cacian dan hinaan di media sosial. Namun, Bobby tak tergoyah. “Anjing menggonggong, kafilah berlalu,” prinsipnya.
Fokusnya tak berubah berkolaborasi dengan TNI, Polri, NGO, dan pemerintah daerah. Bahkan memastikan korban bisa berkomunikasi dengan keluarga di luar zona bencana.
Kesigapannya ternyata bukan reaksi spontan. Jejak kepemimpinannya sudah terlihat sejak 16 September 2025, ketika ia menerbitkan Instruksi Gubernur Nomor 188.54/INST/2025 tentang Peringatan Dini menghadapi ancaman bencana hidrometeorologi.
Ia sudah mengingatkan seluruh bupati dan wali kota, berdasarkan data BMKG, untuk bersiap menghadapi cuaca ekstrem. Sebuah langkah antisipatif yang sayangnya, tenggelam dalam hiruk-pikuk bencana.
Pascabencana, langkahnya tak melambat. 19 Desember 2025, ia menyambangi Desa Garoga dan Batu Hula di Tapanuli Selatan (Tapsel), berbagi semangat dengan pengungsi yang tetap bergotong royong. Ia juga meninjau lahan di Hapesong, Batangtoru, tempat 227 unit hunian segera dibangun untuk korban. Bersama pemerintah pusat, targetnya adalah membangun 1.006 unit rumah di wilayah terparah Tapteng, Tapsel, dan Tapanuli Utara (Taput).
Esok harinya, 20 Desember, ia sudah berada di Kepulauan Nias, meninjau perbaikan jalan dan jembatan, seperti Jembatan Idano Noyo di Nias Barat.
Di balik ketegasan dan senyumnya, ada fakta pilu yang dipikul 370 jiwa meninggal, 72 hilang, 933 terluka, dan 17.759 mengungsi (per 20 Desember 2025). Sebuah beban kepemimpinan yang berat.
Kini, Sumatera Utara berangsur pulih. Bobby Nasution mengajak kita semua untuk melihat ke depan membangun kembali, dengan pembelajaran dan komitmen menjaga alam.
Kisahnya mengingatkan kita pada hikmah Lukmanul Hakim: tentang pentingnya keteguhan hati di tengi badai cobaan dan omongan. Mungkin memang, di panggung kepemimpinan yang keras, tindakan berbicara lebih lantang daripada tangisan. (Dody Ferdiansyah)