Rumput Stadion SUSU ‘Disuntik Hidup’ Jelang Piala AFF U-19 2026, PSMS Rela Pindah Kandang Demi Kualitas
MEDAN – Setelah sekian lama menjadi saksi gegap gempita laga kandang PSMS Medan, Stadion Utama Sumatera Utara (SUSU) kini resmi memasuki babak baru masa perawatan total.
Bukan tanpa alasan. Stadion kebanggaan masyarakat Sumut ini sedang dipersiapkan menjadi salah satu venue bergengsi Piala AFF U-19 2026 yang akan berlangsung pada Juni mendatang.
Dan fokus utamanya? Rumput. Satu elemen yang sering luput dari sorotan, padahal menentukan kualitas pertandingan sekaligus kenyamanan pemain.
Keputusan untuk merawat rumput secara ekstrem ini diambil sejalan dengan berakhirnya laga kandang PSMS Medan musim ini.
Pertandingan terakhir Ayam Kinantan di SUSU terjadi pada Sabtu (25/10/2026) malam melawan Adhyaksa FC. Setelah peluit panjang dibunyikan, stadion langsung bertransformasi dari arena pertarungan sengit menjadi lahan perawatan intensif.
Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Provinsi Sumatera Utara, Mahfullah Pratama Daulay, yang akrab disapa Ipunk, mengonfirmasi bahwa proses perawatan sudah dimulai bahkan sebelum laga pamungkas PSMS usai.
“Tadi malam adalah hari terakhir penggunaan Stadion Utama untuk kompetisi. Tapi treatment untuk rumput sudah kami mulai sejak tiga hari yang lalu dengan pemangkasan,” ujar Ipunk kepada wartawan, Minggu (26/4/2026).
Salah satu hal yang mungkin akan membuat publik terkejut adalah kondisi rumput dalam beberapa pekan ke depan. Ipunk dengan gamblang menjelaskan bahwa warna kekuningan yang muncul bukan tanda kerusakan, melainkan bagian dari proses regenerasi.
“Makanya kalau sekarang dilihat warnanya kuning, itu karena tunasnya sudah dipangkas. Dalam 10-15 hari ke depan, tunas baru akan muncul dengan warna hijau segar. Pemupukan juga sudah dimulai dua hari lalu,” jelasnya.
Agar hasilnya maksimal, Dispora Sumut tidak bekerja sendiri. Mereka menggandeng manajemen profesional yang ahli dalam dunia turf management atau perawatan rumput stadion.
Menurut Ipunk, pendekatan ilmiah ini penting agar rumput SUSU tidak sekadar hijau, tapi juga padat, elastis, dan aman untuk pergerakan pemain muda Asia Tenggara nanti.
“Kami bersama manajemen profesional dan Dispora Sumut harus paham betul tahapan-tahapan perawatan ini. Dan kami pastikan Stadion Utama Sumatera Utara sudah siap menjadi salah satu tuan rumah Piala AFF U-19 nanti,” tegasnya dengan penuh optimisme.
Yang tak kalah menarik adalah strategi menjaga kelembapan tanah. Ipunk menyebut penyiraman dilakukan tiga kali sehari: pagi, siang, dan sore menjelang malam.
“Tanah rumput harus dalam keadaan lembap, bukan kering. Itu kunci agar tunas baru tumbuh tepat waktu. Kami tidak ambil risiko,” tambahnya.
Bagi pecinta sepakbola Sumut, ini adalah kabar baik. Selama ini stadion SUSU sering dikritik karena kondisi rumput yang kurang ideal, terutama saat musim hujan atau setelah dipakai berturut-turut.
Kini, dengan jeda kompetisi dan persiapan menuju turnamen tingkat ASEAN, harapan besar muncul bahwa SUSU akan tampil memukau di mata dunia.
Piala AFF U-19 2026 sendiri rencananya diikuti oleh 12 negara Asia Tenggara. Kehadiran timnas junior Indonesia sebagai tuan rumah sebagian (bersama kota lain) tentu menjadi magnet tersendiri. SUSU diproyeksikan menggelar beberapa laga fase grup dan kemungkinan babak gugur.
Dengan perawatan yang dimulai sejak akhir April ini, maka pada awal Juni rumput SUSU diprediksi sudah dalam kondisi prima. Warna hijau merata, tidak berlumpur, dan aman untuk permainan cepat ala generasi muda.
Ipunk juga menyampaikan apresiasi kepada PSMS Medan yang telah kooperatif menjadwalkan laga kandang terakhir lebih awal. “Ini bentuk sinergi. Kami tidak ingin memaksakan stadion dipakai terus sebelum turnamen besar. Perawatan butuh waktu, dan PSMS memaklumi itu,” tutupnya. (FD)