Pelajaran Pahit dari Banjir Dahsyat Medan: DPRD Desak Satu Perahu Karet per Kelurahan untuk Evakuasi Cepat!
MEDAN – Banjir yang melanda Kota Medan pada akhir November 2025 akibat Siklon Tropis Senyar menjadi bencana hidrometeorologi yang menyisakan duka mendalam.
Fenomena langka ini memicu hujan ekstrem dengan curah hingga 262 mm/hari di Medan, menyebabkan luapan air setinggi dada orang dewasa, ribuan rumah terendam, dan evakuasi darurat bagi warga yang terjebak.
Dalam rapat evaluasi Triwulan III Tahun Anggaran 2025 Komisi II DPRD Medan bersama BPBD Kota Medan pada Senin (22/12/2025), anggota DPRD dari Fraksi NasDem, Afif Abdillah, SE (yang juga Ketua Bapemperda DPRD Medan), tegas menyuarakan urgensi pengadaan perahu karet di tingkat kelurahan.
“Banjir November lalu membuktikan, kita tak bisa lagi bergantung hanya pada BPBD pusat. Minimal satu perahu karet per kantor lurah! Ini investasi murah dibanding kerugian besar hilangnya pendapatan harian warga, barang rusak, dan risiko jiwa,” ujar Afif dengan nada mendesak.
Ia menekankan, saat banjir melanda, warga di wilayah terdampak sulit saling tolong. Justru kelurahan yang aman yang bisa gerak cepat membantu tetangganya. “Rencanakan ini di RAPBD atau paling lambat PAPBD mendatang,” sarannya kepada Kepala BPBD Medan, Yunita Sari SH MH.
Menanggapi, Yunita Sari mengakui keterbatasan armada: BPBD Medan hanya punya 8 perahu karet, dengan 3 di antaranya rusak (bocor tertusuk seng saat evakuasi). Yang layak pakai hanya 5 unit, plus 4 perahu bermotor bantuan BNPB yang datang telat. Bahkan harus berbagi dengan Damkar yang perahunya juga rusak.
“Namun, contoh sukses di Kelurahan Aur, Medan Maimun, menunjukkan betapa powerful evakuasi mandiri dengan perahu sendiri. Kami sudah ajukan penambahan di anggaran 2025, tapi terkendala efisiensi di Bappeda. Mohon dukungan DPRD, minimal satu perahu per kecamatan,” pintanya.
Rapat yang dipimpin Wakil Ketua Komisi II Modesta Marpaung ini juga dihadiri anggota seperti Johannes Haratua Hutagalung dan Binsar Simarmata, serta staf BPBD.
Usulan ini semakin relevan mengingat banjir Senyar bukan sekadar musibah biasa, tapi dampak siklon tropis langka dekat ekuator yang memakan korban jiwa di Sumut. Kesiapsiagaan lokal seperti perahu karet bisa jadi penyelamat nyawa di masa depan. (FD)