Rico Waas Turun Langsung Atasi Banjir Medan Selayang, Drainase Tersumbat Jadi Biang Kerok

161

MEDAN – Hujan deras masih menjadi momok menakutkan bagi warga Jalan Bunga Mawar, Kecamatan Medan Selayang.

Genangan air yang kerap mencapai selutut hingga sepaha orang dewasa setiap kali hujan turun kembali menuai keluhan. Namun kali ini, respons cepat datang dari pemimpin kota.

Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas, langsung turun ke lokasi langganan banjir tersebut pada Jumat (19/6/2026). Tanpa basa-basi, orang nomor satu di Pemko Medan itu meninjau langsung titik-titik genangan dan mendengar sendiri curhat warga yang sudah bertahun-tahun hidup dengan ancaman banjir.

“Dari hasil peninjauan awal, kami menemukan ada saluran drainase berukuran besar yang diduga sudah lama mengalami penyumbatan. Akibatnya, air tidak bisa mengalir secara optimal saat hujan deras,” ujar Rico Waas di lokasi.

Ia pun langsung memerintahkan Kepala Dinas Sumber Daya Air, Bina Marga dan Bina Konstruksi (SDABMBK) Kota Medan, Khairul Azmi, untuk melakukan pengecekan menyeluruh.

“Harus dicek lebih detail untuk mengetahui titik permasalahannya. Setelah itu, kita petakan solusi paling tepat apakah perlu normalisasi drainase yang ada atau pembangunan saluran baru agar genangan tidak kembali terjadi,” tegasnya.

Tak hanya pejabat dinas, peninjauan itu juga dihadiri Camat Medan Selayang, Muhammad Husnul Hafiz Rambe, memastikan koordinasi lintas sektor berjalan cepat.

Baca Juga : Malam Penuh Berkah: Wali Kota Rico Waas Gelar Tarawih Perdana, Warga Medan Selayang Banjir Haru

Persoalan banjir di Medan Selayang bukan isu baru. Jalan Bunga Mawar dan sekitarnya termasuk Pasar III, Pasar IV, dan Jalan Bunga Cempaka sudah bertahun-tahun menjadi langganan banjir setiap musim hujan tiba.

Ketinggian air rata-rata mencapai lutut hingga pinggang orang dewasa, bahkan sempat melumpuhkan aktivitas warga dan mengakibatkan kendaraan mogok.

Banjir besar yang melanda 19 dari 21 kecamatan di Kota Medan pada 27 November 2025 lalu disebut Rico sebagai banjir terbesar sepanjang sejarah.

“Banyak warga mengatakan itu banjir terbesar sepanjang hidup mereka tinggal di Medan,” kenangnya.

Peristiwa itu tidak hanya merendam rumah dan fasilitas umum, tetapi juga melumpuhkan ekonomi, kesehatan, dan pendidikan, bahkan menimbulkan korban jiwa.

Berdasarkan hasil diskusi dengan Balai Wilayah Sungai (BWS), banjir besar tersebut disebut sebagai siklus 25 tahunan.

Namun dengan kondisi iklim yang kian ekstrem, potensi bencana bisa terjadi lebih cepat. Rico pun menegaskan bahwa kejadian itu harus dijadikan pijakan utama untuk memperkuat kesiapsiagaan dan penanganan bencana secara menyeluruh.

Fakta mengejutkan terungkap dari pengecekan lapangan yang dilakukan Rico. Ada sungai di Medan yang terakhir kali dinormalisasi pada tahun 2000 artinya sudah 25 tahun tidak tersentuh perbaikan. “Kalau kita tidak bertindak maksimal, banjir akan terus berulang,” tegasnya.

Pesatnya pertumbuhan Kota Medan—dari sisi jumlah penduduk, kawasan permukiman, hingga perubahan tata ruang—telah menggerus fungsi alami daerah resapan air.

Banyak kawasan yang seharusnya menjadi ruang terbuka hijau dan penahan banjir justru berubah menjadi permukiman dan bangunan tertutup.

“Drainase memang perlu dibenahi. Tapi saya ingin kita bicara solusi yang paling jitu. Bukan sekadar perawatan atau pengurangan dampak, melainkan langkah yang benar-benar menyelesaikan masalah banjir,” ujar Rico.

Rico Waas tidak hanya berjanji. Ia telah menyiapkan langkah strategis. Penanganan banjir sudah masuk dalam perencanaan Musrenbang dan program di Dinas SDABMBK. Beberapa solusi konkret yang tengah digarap:

1. Normalisasi Drainase 21 Kilometer
2. Kolam Detensi Selayang Target Reduksi 15% Banjir
3. Normalisasi Sungai Besar
4. Kolaborasi dengan BBWS Sumatera II

Pemko Medan telah resmi menggandeng Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Sumatera II untuk mencari solusi terpadu dan berkelanjutan.

Meski sungai merupakan wewenang pemerintah pusat, Rico menekankan Pemko Medan bergerak cepat membantu normalisasi dan pengerukan sebagai wujud pelayanan kepada masyarakat.

Pantau terus perkembangan penanganan banjir di Kota Medan hanya di saluran resmi Pemerintah Kota Medan dan media terpercaya. (Rel)