SMK Pariwisata Berasrama Gratis Disiapkan, Danau Toba Siap Jadi Destinasi Kelas Dunia

10

JAKARTA – Pemerintah Provinsi Sumatera Utara di bawah kepemimpinan Gubernur Muhammad Bobby Afif Nasution terus menunjukkan komitmen serius dalam mengembangkan sektor pendidikan dan pariwisata secara terpadu.

Langkah terbaru yang paling dinanti adalah pembangunan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) unggulan berbasis pariwisata di Kabupaten Samosir dengan konsep boarding school atau sekolah berasrama yang seluruh biayanya ditanggung pemerintah.

Kabar menggembirakan ini disampaikan langsung Bobby Nasution saat menghadiri Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Punguan Simbolon dohot Boruna Indonesia (PSBI) di Hotel Aryaduta, Jakarta, Selasa (7/7/2026).

Di hadapan para tokoh masyarakat Batak, menantu Presiden RI Joko Widodo itu menegaskan bahwa sekolah ini dirancang tidak sekadar mencetak lulusan dengan kompetensi teknis, tetapi juga membentuk karakter, disiplin, dan kesiapan mental siswa melalui sistem pendidikan berasrama.

“Skemanya adalah boarding dan semua biaya ditanggung pemerintah, bukan hanya materi pembelajaran, tetapi juga kesiapan mental siswa,” ujar Bobby optimistis.

Tahapan perencanaan pembangunan SMK Pariwisata ini telah memasuki fase matang. Bobby mengapresiasi dukungan penuh Pemerintah Kabupaten Samosir yang telah menyiapkan lahan, sementara dokumen Detail Engineering Design (DED) juga telah rampung.

Baca Juga : PEMAproV Sumut Buka Pintu Lebar ke Jepang! Fokus Cetak SDM Unggul & Tembus Pasar Kerja Negeri Sakura

“Tanahnya sudah kami siapkan, tinggal kami membangun. Jadi DED-nya sudah kami buat,” jelasnya. Dengan kesiapan ini, proyek strategis tersebut diyakini dapat segera direalisasikan.

Kehadiran SMK Pariwisata berasrama ini menjadi jawaban atas kebutuhan mendesak akan sumber daya manusia (SDM) berkualitas di kawasan Danau Toba yang telah ditetapkan sebagai Destinasi Pariwisata Super Prioritas (DPSP).

Selama ini, pengembangan Danau Toba sebagai destinasi kelas dunia sering terkendala oleh kurangnya tenaga terampil di bidang perhotelan, kuliner, pemandu wisata, dan pengelolaan destinasi.

SMK ini diharapkan menjadi solusi jangka panjang dengan mencetak lulusan yang siap pakai dan memiliki daya saing global.

Di luar sektor pendidikan, Bobby juga menyoroti pentingnya transformasi pengelolaan kebudayaan di Sumatera Utara.

Menurutnya, pelestarian budaya tidak lagi cukup dilakukan secara statis, melainkan harus dikembangkan melalui pendekatan industri kreatif agar tetap lestari sekaligus memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat.

“Kita bukan zamannya lagi hanya melestarikan secara statis, tapi bagaimana melestarikan melalui industri,” tegasnya.

Bobby juga mengusulkan integrasi Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) di seluruh Sumut sebagai solusi mengatasi persoalan penyediaan air bersih di berbagai daerah.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua PSBI Effendi Simbolon menyampaikan tiga aspirasi utama yang menjadi perhatian masyarakat.

Pertama, infrastruktur air bersih dan irigasi di Kabupaten Samosir yang masih terbatas—ironis karena daerah ini berada di tengah Danau Toba.

Kedua, PSBI meminta perusahaan Aquafarm di kawasan Danau Toba untuk melaksanakan pengolahan air dan limbah secara bertanggung jawab demi kelestarian lingkungan, bukan ditutup.

Ketiga, pelestarian budaya Batak sebagai warisan leluhur dan identitas masyarakat.

SMK Pariwisata berasrama gratis di Samosir adalah bukti nyata bahwa pembangunan SDM dan pariwisata bisa berjalan beriringan.

Dengan pendidikan berkualitas, budaya yang dilestarikan secara kreatif, dan lingkungan yang terjaga, Danau Toba siap melesat sebagai destinasi kebanggaan Indonesia di kancah global. (Rel)