Bapenda Medan Curi Ilmu Budaya Kerja BI Sumut, Sinergi Dorong PAD dan Layanan Publik

224

MEDAN — Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kota Medan mencuri perhatian dalam forum Behaviour Exploration dan Group Reflection yang digelar Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi Sumatera Utara, Jumat (11/9/2026).

Bukan sekadar hadir, Bapenda datang membawa misi besar: memperkuat sinergi lintas instansi, membenahi tata kelola proses bisnis, dan menumbuhkan budaya kerja adaptif.

Bertempat di lantai 6 Gedung KPw BI Sumut, agenda ini menjadi ruang evaluasi implementasi Program Perubahan KPw BI 2026.

Fokusnya tajam mengukur efektivitas budaya kerja, membedah proses bisnis, serta mendiskusikan internalisasi inovasi bersama pegawai dan mitra kerja strategis.

Kepala Bapenda Kota Medan, M. Agha Novrian, diwakili Kabid Pengembangan, Pengendalian Pajak dan Retribusi Daerah, Popy Maya Syafira.

Baca Juga : Bapenda & Kantah Medan Bangun “Gerbang Data” Atasi Kebocoran Pajak Tanah

Kehadiran ini menegaskan posisi Bapenda sebagai mitra strategis Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas dan mendorong kemajuan daerah.

Dalam diskusi interaktif, Bapenda merefleksikan efektivitas sinergi antarlembaga. Menurut Popy, kolaborasi bukan hanya soal seremonial, tetapi harus berdampak pada layanan publik yang lebih cepat, transparan, dan efisien.

“Sinergi yang kuat akan melahirkan inovasi proses bisnis. Ujungnya, masyarakat Medan mendapat layanan lebih baik dan pendapatan asli daerah (PAD) meningkat,” ujarnya.

Forum ini juga menjadi ajang belajar budaya kerja. Bapenda melihat langsung bagaimana BI membangun ekosistem perubahan, mulai dari eksplorasi perilaku hingga refleksi kelompok.

Metode ini dinilai relevan untuk diadopsi dalam pengelolaan pajak dan retribusi daerah, terutama dalam menghadapi tantangan digitalisasi dan ekspektasi publik yang semakin tinggi.

Harapannya, kemitraan Bapenda Kota Medan dan Bank Indonesia semakin erat. Sinergi yang terbangun diyakini mampu mendorong tata kelola keuangan daerah yang lebih akuntabel, inovatif, dan berdampak pada optimalisasi pelayanan publik serta peningkatan PAD Kota Medan.

Agenda ini bukan sekadar rapat evaluasi. Ia menjadi tanda institusi publik mulai berlomba mengadopsi cara kerja lintas sektor: terbuka, reflektif, dan berorientasi hasil.

Jika konsisten, Medan bisa menjadi contoh bagaimana sinergi daerah dan bank sentral mempercepat pembangunan tanpa terjebak ego sektoral. (Rel)