Demi Dapur, Harga Cabai Rp50 Ribu Bikin Pria di Deli Serdang Nekat Mencuri, Berujung Diamuk Massa

364

PAKAM – Mahalnya harga cabai di pasaran rupanya menyisakan ironi pahit di level paling bawah. Bagi petani, lonjakan harga seharusnya menjadi berkah.

Namun, yang terjadi di Kecamatan Beringin dan Pantai Labu, Kabupaten Deli Serdang, justru sebaliknya. Harga cabai yang menembus angka Rp50.000 per kilogram telah memicu gelombang kejahatan baru yang meresahkan: pencurian hasil panen.

Puncak dari kekesalan warga terjadi pada Minggu (13/9/2026) dini hari. Seorang pria tak dikenal tertangkap basah tengah memetik cabai di sebuah ladang milik warga di Desa Pasar V Kebun Kelapa, Kecamatan Beringin.

Aksi pria tersebut terendus oleh pemilik ladang yang tengah berpatroli bersama warga lainnya. Bukannya melarikan diri, pria malang itu langsung dikepung dan menjadi sasaran amukan massa yang sudah geram dengan maraknya pencurian belakangan ini.

Baca Juga : Drama Malam di Deli Serdang: Pria Paruh Baya Nyaris Tewas Diamuk Massa Usai “Larikan” Kereta Teman Sendiri

Dalam rekaman dan kesaksian warga, pria tersebut sempat babak belur dihakimi massa sebelum akhirnya diamankan. Dengan tubuh penuh luka memar, ia hanya bisa pasrah dan memohon agar warga menghentikan aksi main hakim sendiri.

“Tolong jangan dipukul lagi,” ujarnya lirih saat diinterogasi di tengah kerumunan warga yang masih menyala-nyala emosinya.

Sumantri, salah seorang warga setempat, membenarkan bahwa insiden tersebut bukanlah kejadian pertama.

Menurutnya, dalam beberapa pekan terakhir, kebun-kebun cabai milik warga di dua kecamatan itu kerap menjadi sasaran pencuri. Ia menduga, lonjakan harga cabai yang signifikan menjadi pemicu utama meningkatnya angka kriminalitas ini.

“Warga di sini sudah sering kehilangan tanaman cabainya. Apalagi sekarang harga cabai mahal, sekitar Rp50.000 per kilogram. Jadi sekarang banyak pencurian. Tidak tahu orang mana, tadi sempat dipukuli warga,” ujar Sumantri saat ditemui, Senin (14/9/2026).

Keresahan ini tidak hanya terjadi di Kecamatan Beringin. Warga di Kecamatan Pantai Labu juga melaporkan hal serupa.

Yang lebih meresahkan, modus pencurian kini tidak lagi sekadar memetik buah cabai secara sembunyi-sembunyi. Dalam beberapa kasus, pelaku tega mengarit atau menebas batang tanaman cabai saat beraksi.

Akibatnya, kerugian yang dialami petani jauh lebih besar, karena tanaman yang seharusnya bisa panen berkali-kali menjadi mati dan tidak produktif.

Insiden ini menjadi potret buram di balik tingginya harga komoditas pangan. Di satu sisi, petani berharap mendapatkan keuntungan maksimal dari harga jual yang tinggi.

Namun di sisi lain, tingginya harga di tingkat konsumen ternyata juga mendorong sebagian orang untuk menghalalkan segala cara, termasuk mencuri hasil jerih payah petani.

Pihak kepolisian setempat belum memberikan keterangan resmi terkait penanganan kasus ini. Namun, warga berharap ada solusi konkret agar kejadian serupa tidak terulang. Mereka meminta adanya peningkatan patroli keamanan di area perkebunan, terutama pada malam hari.

Sementara itu, pria yang tertangkap basah tersebut kini telah diamankan pihak berwenang untuk diproses hukum lebih lanjut.

Meski aksi main hakim sendiri tidak dibenarkan secara hukum, namun kejadian ini menjadi cermin jelas bahwa tekanan ekonomi akibat mahalnya harga pangan dapat memicu ledakan sosial di masyarakat.

Fenomena “maling cabai” di Deli Serdang ini seolah menjadi tamparan keras. Di tengah gempuran harga cabai yang membuat dapur rumah tangga menangis, para petani justru harus berjibaku menjaga ladangnya dari tangan-tangan jahil.

Sebuah ironi negeri agraris yang kaya, namun masih bergelut dengan ketimpangan dan keamanan hasil bumi. (FD)