Surya Dorong Garuda Indonesia Buka Lagi Rute Kualanamu–Nias Demi Ekonomi dan Wisata Kelas Dunia

MEDAN — Wakil Gubernur Sumut, Surya, secara tegas mendorong Garuda Indonesia untuk menghidupkan kembali rute penerbangan langsung dari Bandara Internasional Kualanamu menuju Bandara Binaka, Gunungsitoli, Nias.

Bukan sekadar soal pesawat terbang, ini adalah tentang membuka pintu harapan bagi salah satu wilayah yang selama ini tertinggal di tanah air.

Nias bukanlah pulau biasa. Di sinilah terdapat Pantai Sorake, yang oleh para peselancar dunia dijuluki sebagai surga ombak dengan ketinggian 10-12 meter, bahkan masuk dalam jajaran 10 besar tempat surfing terbaik di dunia, sejajar dengan Hawaii.

Setiap tahun, ajang bergengsi Nias Pro—bagian dari World Surf League Qualifying Series—digelar di perairan Nias Selatan, menarik ratusan peserta dari belasan negara.

Namun sayangnya, akses menuju surga tersembunyi ini masih terhambat oleh terbatasnya pilihan transportasi udara.

Saat ini, Nias hanya bisa diakses dari Kualanamu dengan frekuensi terbatas. Harga tiket yang mahal kerap menjadi keluhan utama masyarakat Kepulauan Nias.

Baca Juga : Wings Air Buka Rute Kualanamu–Madina: 80 Menit, Rp1,2 Juta, dan Revolusi Konektivitas Sumut!

Wagub Surya menyadari betul bahwa transportasi adalah nadi pembangunan.

“Kalau bisa ada penerbangan Kualanamu-Nias. Kita ingin mengangkat daerah-daerah yang masih tertinggal. Salah satu indikatornya adalah bertambahnya penerbangan ke daerah tersebut,” tegasnya dalam pertemuan dengan Wakil Direktur Utama Garuda Indonesia, Thomas Oentoro, Kamis (3/9/2026).

Apa yang akan terjadi jika rute ini kembali dibuka? Pertama, konektivitas yang lebih baik akan membuka keran investasi.

Pemprov Sumut menargetkan realisasi investasi mencapai Rp100 triliun, dengan pertumbuhan ekonomi 4,55% dan PDRB Rp315,56 triliun pada triwulan III 2025.

Kedua, pariwisata Nias akan melonjak. Dengan spot surfing yang kini tersebar di Nias Selatan, Nias Utara, hingga Nias Barat, wisatawan asing bisa tinggal lebih lama, menjelajahi ombak dari satu titik ke titik lain.

Ketiga, UMKM lokal bangkit. Event seperti Nias Pro dan Afulu Pro 2025 telah membuktikan bahwa sport tourism mampu menggerakkan ekonomi kreatif, membuka lapangan kerja, dan menghidupkan industri pariwisata.

Surya juga memiliki visi yang lebih besar: menjadikan Sumut sebagai pusat budaya. Ia meminta Garuda memperkenalkan musik Batak, kuliner khas Sumut, dan seni budaya daerah melalui layanan penerbangan.

“Kita ingin musik Batak dan makanan daerah bisa lebih diperkenalkan. Ini bisa menjadi bagian dari promosi produk daerah,” ujarnya.

Bayangkan, penumpang pesawat dari Medan menuju Jakarta atau Bali sudah disambut dengan alunan musik khas Sumut dan cita rasa kuliner lokal sebuah strategi promosi yang cerdas dan otentik.

Garuda Indonesia pun menyambut baik. Saat ini, Garuda mengoperasikan 70 rute (50 domestik, 20 internasional) dan berencana menambah 7 armada baru pada 2025.

Namun, keterbatasan armada masih menjadi kendala—dari sekitar 140 pesawat, sebagian masih dalam perawatan. Thomas Oentoro menyatakan, masukan-masukan yang disampaikan menjadi bahan bagi mereka. Bersama tim, ia akan mencari solusi untuk pengembangan rute dan konektivitas dari Medan.”

Target Pemprov Sumut ambisius: pada 2027-2028, tidak ada lagi daerah tertinggal di Sumatera Utara. Pembukaan kembali rute Kualanamu–Nias bukanlah sekadar penerbangan biasa.

Ini adalah simbol kebangkitan, jembatan emas yang menghubungkan Nias—dengan segala potensi wisata dan budayanya—ke panggung nasional bahkan internasional. (Rel)

#BangkitNias#garudaindonesia#InvestasiSumut#kitamedandotcom#KonektivitasUdara#KualanamuNias#NiasPro#NiasSurfing#PariwisataNias#SportTourism#SumutMaju