MEDAN – Peringatan Hari Nelayan Nasional yang jatuh pada 6 April 2026 tak sekadar seremonial. Di balik layar, jeritan nelayan Belawan masih nyaring: solar langka, laut rusak, kantong kering.
Anggota DPRD Kota Medan, Zulham Efendi (PKS), yang juga anak seorang nelayan, angkat bicara. Ia menyebut tiga persoalan akut yang hingga kini belum terselesaikan:
1. Kelangkaan Solar – Biaya Melaut Melambung
“Setiap hari nelayan harus berpacu dengan harga bahan bakar. Saat solar langka, mereka terpaksa membeli dengan harga dua kali lipat dari pengecer. Ini memangkas pendapatan hingga 40%,” ujar Zulham.
2. Pencemaran Laut – Hasil Tangkapan Merosot
Limbah pabrik dan domestik di kawasan Belawan mencemari ekosistem. Menurut nelayan setempat, volume ikan turun drastis, bahkan sering dapat sampah plastik dan limbah beracun. “Dulu sekali melaut bisa dapat 50 kg, sekarang 10 kg pun susah,” keluh seorang nelayan.
3. Kesejahteraan Minim – Tanpa Jaring Pengaman
Mayoritas nelayan Belawan masih hidup di bawah garis layak. Mereka tidak punya akses permodalan, alat tangkap modern, apalagi asuransi. “Saat sakit atau musim paceklik, mereka jatuh miskin,” tambah Zulham.
Momentum Evaluasi, Bukan Pesta
“Hari Nelayan seharusnya jadi cermin bagi pemerintah. Jangan hanya upacara dan bagi-bagi sembako. Kita butuh program berkelanjutan,” tegas politisi yang menjabat Ketua Bidang Petani, Peternak, dan Nelayan DPW PKS Sumut ini.
Baca Juga : Genjot Perekonomian Nelayan, Pemkab Deli Serdang Rehabilitasi 3 TPI
Ia memaparkan solusi konkret yaitu, ketersediaan solar bersubsidi dengan kuota khusus untuk nelayan Belawan. Kemudian bantuan alat tangkap ramah lingkungan dan cold storage untuk menjaga kualitas ikan.
Selanjutnya, akses kredit usaha tanpa agunan melalui KUR nelayan, pelatihan peningkatan keterampilan, misalnya pengolahan ikan menjadi produk bernilai tambah serta jaminan asuransi nelayan yang mencakup kecelakaan laut dan gagal panen.
Sinergi Daerah-Pusat-Swasta
Zulham mendorong kolaborasi tiga pilar Pemko Medan, pemerintah pusat, dan pihak swasta. Tempat Pelelangan Ikan (TPI) di Belawan perlu direvitalisasi. Harga ikan juga harus distabilkan agar tidak dimainkan tengkulak.
Ia mencontohkan program blue economy yang bisa diadaptasi, seperti pengembangan ekowisata mangrove yang dikelola kelompok nelayan.
“Nelayan tidak hanya menggantungkan diri pada tangkapan, tapi bisa jadi pengelola wisata atau pengolah hasil laut,” paparnya.
Pesan Akhir: Nelayan Kuat, Indonesia Berdaulat
Dengan semangat “Pangan Biru dan Nelayan Kuat Indonesia Berdaulat”, Zulham mengajak semua pihak menjadikan momen ini sebagai titik balik.
“Nelayan adalah pahlawan pangan dari laut. Mereka berhadapan dengan ombak, polusi, dan ketidakpastian harga. Sudah saatnya mereka hidup layak. Jangan biarkan mereka berjuang sendirian,” ungkap Zulham.
Hari Nelayan 2026 diharapkan bukan sekadar catatan tahunan, melainkan awal perubahan nyata bagi ribuan nelayan Belawan. Apakah pemerintah mendengar? Waktu yang akan menjawab. (FD)