Putra Mahkota Reza Pahlavi Serukan Transisi Besar, Respons Gelombang Protes di Iran
JAKARTA – Reza Pahlavi, putra mahkota terakhir Shah Iran yang digulingkan pada Revolusi 1979, telah muncul secara vokal merespons gelombang protes anti-pemerintah yang meluas di Iran.
Dari pengasingannya selama puluhan tahun di Amerika Serikat, Pahlavi menyatakan kesiapan untuk memimpin transisi menuju sebuah Iran yang sekuler dan demokratis.
“Kita akan sepenuhnya membuat Republik Islam dan aparatus penindasannya yang usang dan rapuh bertekuk lutut,” tegas Pahlavi dalam pesan video yang disebarkan melalui platform X, memuji keberanian warga Iran yang turun ke jalan.
Munculnya Pahlavi ini terjadi di tengah krisis ekonomi dan politik yang dalam di Iran. Gelombang protes terbaru dipicu oleh situasi ekonomi yang memburuk, diperparah oleh sanksi internasional dan dampak konflik regional.
Seruan Pahlavi menawarkan narasi alternatif bagi sebagian demonstran, dengan beberapa video di media sosial menunjukkan teriakan “Hidup Shah!”.
Namun, dukungan riil untuk Pahlavi di dalam negeri masih menjadi tanda tanya besar. Mayoritas massa protes tampaknya lebih berfokus pada tuntutan perubahan sistemik dan menentang kepemimpinan ulama saat ini, ketimbang mendukung restorasi monarki.
Baca Juga : Tragedi Kemanusiaan: 500 Jiwa Melayang dalam Gelombang Protes Terbesar Iran Sejak 2022
Seperti dikomentari Azadeh (27), seorang warga, “Kita pernah memiliki Pahlavi, sekarang saatnya untuk negara yang demokratis.”
Pahlavi bukanlah nama baru dalam gejolak politik Iran. Ia kerap menyuarakan oposisi selama krisis, seperti pada 2009 dan 2022.
Namun, berbeda dengan Revolusi 1979 yang punya figur pemersatu tunggal, oposisi Iran saat ini sangat terfragmentasi. Pahlavi memiliki basis dukungan signifikan di diaspora Iran, terutama di AS, dan telah melakukan langkah-langkah diplomatik kontroversial seperti mengunjungi Israel dan mendukung serangan terhadap fasilitas nuklir Iran.
Sementara itu, respons komunitas internasional masih hati-hati. Pemerintah AS belum memberikan dukungan resmi kepada Pahlavi. Mantan Presiden AS Donald Trump menyatakan akan mendukung rakyat Iran, tetapi ragu apakah bertemu dengan Pahlavi adalah langkah yang tepat.
Pernyataan Pahlavi, “Hanya ada satu jalan untuk mencapai perdamaian: Iran yang sekuler dan demokratis,” jelas memantik perdebatan. Apakah ia akan menjadi figur pemersatu bagi gerakan perubahan, atau justru simbol dari masa lalu yang ingin ditinggalkan oleh banyak demonstran, masih harus dibuktikan.
Satu hal yang pasti: suaranya telah menambah dimensi baru dan kompleks dalam perjuangan politik Iran yang sedang bergejolak. (CNBC)