Dana Rp497 Miliar vs Kenyataan Pahit : Lapangan Merdeka Medan Dikritik Habis-Habisan Usai Revitalisasi
MEDAN – Proyek megah Revitalisasi Lapangan Merdeka Medan, yang menelan anggaran fantastis sebesar Rp497 miliar dari APBD Kota Medan, kembali menjadi sorotan pedas.
Alih-alih jadi kebanggaan, hasil pembangunan multiyears itu justru diributi publik karena dinilai tidak sebanding dengan dana yang dikucurkan.
Kritik Pedas dari Anggota DPRD: Lihat Sendiri Kerusakannya!
Anggota Komisi IV DPRD Medan, Antonius Devolis Tumanggor, secara tegas mempertanyakan kemajuan dan kualitas pekerjaan. Ia menyaksikan langsung berbagai masalah di lapangan.
“Media terus meributkan, dana terus dialirkan, tapi solusi tak kunjung jelas,” tanyanya kepada Kepala Dinas Perkimcitaru Medan, Jhon Ester Lase, dalam Rapat Kerja Triwulan IV, belum lama ini.
Antonius, yang juga Ketua Umum DPW Sopo ATRestorasi dan Wakil Ketua Fraksi NasDem, mengungkap fakta mencengangkan. Saat berkunjung malam hari dalam kondisi hujan, ia melihat plafon gedung bocor hingga air masuk.
“Drainase juga tidak terarah, terbukti saat banjir besar melanda Medan pada 27 November 2025,” imbuhnya.
Sorotan Masalah yang Berlarut
Kritik tidak berhenti di Lapangan Merdeka. Antonius juga mempertanyakan lambatnya pembebasan lahan untuk penanganan banjir yang banyak belum dibayar, serta nasib ganti rugi warga korban banjir. “Di kawasan saya di Sei Agul terendam 1,5 meter. Apa solusi konkret untuk warga?” tegasnya.
Menanggapi kritik tersebut, Kadis Perkimcitaru Jhon Ester Lase menyatakan bahwa pembangunan pada prinsipnya sudah selesai dan sedang dalam masa pemeliharaan. Ia mengakui ada keterlambatan akibat penanganan banjir November lalu.
Soal genangan air di area Lapangan Merdeka, Lase menjelaskan bahwa air masuk dari pintu depan saat banjir, dan pompa tidak berfungsi karena listrik padam.
“Saat diperiksa tidak ada masalah. Ke depan akan ditambah pompa khusus antisipasi mati lampu,” jawabnya dengan enteng, menegaskan bahwa masalah sudah selesai.
Fasilitas Mangkrak dan Ketidakpuasan yang Meningkat
Jawaban itu justru memantik kekecewaan lebih dalam. Antonius menyatakan tidak puas dan kembali menyinggung fakta di lapangan.
“Saya lihat sendiri, bagian belakang panggung belum tuntas, eskalator, kamar mandi, hingga tenant untuk pedagang belum berfungsi optimal. Apa yang sebenarnya sudah siap?” hardiknya bernada kesal.
Proyek Revitalisasi Lapangan Merdeka yang seharusnya menjadi simbol kemajuan Kota Medan, justru berubah menjadi lokus masalah baru. Kesenjangan antara klaim “selesai” dari eksekutor dengan fakta kerusakan dan ketidakfungsian fasilitas di lokasi memicu tanda tanya besar: Kemanakah larinya anggaran Rp497 miliar milik publik itu?
Masyarakat menunggu transparansi dan perbaikan nyata, bukan sekadar janji di atas kertas. (FD)