Rico Waas: Digitalisasi Tarombo, Cara Jenius Menjaga Silsilah Batak di Era Medsos

96

MEDAN – Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas, menggemparkan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Persadaan Siboro Dohot Boruna (Parsibo) di Grand Mercure, Sabtu (13/6/2026).

Bukan dengan jargon politik, tapi dengan terobosan yang menyentuh akar budaya Batak: digitalisasi tarombo.

“Kita tidak bisa melawan arus teknologi. Justru jadikan ia senjata untuk melestarikan martumbak, marga, dan sejarah keluarga,” tegas Rico Waas di hadapan ratusan peserta rakernas.

Tarombo adalah silsilah garis keturunan masyarakat Batak yang selama ini diwariskan secara lisan dan tulisan dalam buku adat.

Namun, seiring modernisasi, banyak generasi muda mulai kesulitan melacak hubungan kekerabatan, apalagi jika keluarga tersebar di seluruh Indonesia bahkan dunia.

Dengan sistem digital yang digagas Parsibo, kata Rico, semua bisa diubah. Cukup dalam genggaman tangan, anggota keluarga besar bisa:

· Melacak garis keturunan hingga puluhan generasi.
· Mengetahui posisi kekerabatan (anak, amang, tulang, namboru, dll).
· Menemukan sanak saudara yang tersebar di Medan, Jakarta, sampai perantauan.
· Berkolaborasi di bidang pendidikan, karier, hingga usaha.

Baca Juga : Digitalisasi Pajak Medan: dr Faisal Arbie Bongkar Kebocoran PAD Rp2 Triliun, Target PAD Tembus Rp5 Triliun di 2027

Rico Waas mendorong agar digitalisasi tarombo tidak berhenti sebagai “buku alamat digital”. Ia memimpikan platform ini menjelma menjadi jejaring sosial dan ekonomi berbasis marga.

“Bayangkan jika ada database terintegrasi. Kita tahu siapa anggota keluarga yang jadi pengusaha, siapa yang butuh beasiswa, siapa yang bisa jadi mentor karier. Bantuan keluarga tidak lagi asal-asalan, tapi terstruktur dan tepat sasaran,” ujarnya penuh semangat.

Menurutnya, rakernas Parsibo harus memperdalam aspek teknis: pendataan anggota, domisili, potensi ekonomi, hingga keahlian masing-masing keluarga. Karena teknologi tanpa data yang rapi hanyalah wadah kosong.

Yang tak kalah penting, digitalisasi tarombo juga punya fungsi protektif. Di era gempuran konten negatif dan budaya asing, teknologi bisa menjadi pintu masuk anak muda untuk mengenali identitasnya.

“Kalau silsilah dan cerita leluhur dikemas dalam aplikasi yang keren, interaktif, dan kekinian, anak muda akan bangga. Mereka tidak mudah tercerabut dari akar budayanya,” tambah Rico.

Ia juga mengingatkan bahwa antara generasi tua dan muda sering terjadi kesenjangan. Dengan sistem digital, kakek-nenek bisa mendokumentasikan tarombo, sementara cucu-cucu mengaksesnya lewat smartphone. Terjembatani tanpa kehilangan esensi.

Di akhir sambutannya, Rico Waas berpesan agar Parsibo tidak sekadar mengadakan rakernas seremonial. Ia meminta lahirnya program kerja konkret yang adaptif terhadap teknologi, namun tetap membumi pada nilai budaya.

“Kekuatan budaya + kecerdasan teknologi = fondasi identitas dan kemajuan bersama. Jangan tunda lagi. Mulai dari Medan, dari Parsibo, digitalisasi tarombo menjadi gerakan nasional,” tutupnya disambut tepuk tangan meriah.

Isu ini langsung menyita perhatian publik karena menyentuh kebutuhan lintas generasi. Banyak anak muda Batak yang selama ini bingung mencari “posisinya” dalam keluarga besar kini merasa lega. Sementara para tetua adat optimis bahwa tradisi tidak akan hilang, justru terawat lebih rapi. (Rel)