Pansus PAD Medan Belajar ke Surabaya & Malang: Ini Jurus Jitu Gali PAD Lewat AI dan E-Tax
MEDAN – Siapa bilang naikin pendapatan daerah cuma bisa dengan cara konvensional? Pansus PAD DPRD Kota Medan bersama Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) membuktikan sebaliknya.
Awal Juni lalu, rombongan bertolak ke dua kota besar yang jadi kampiun optimalisasi PAD: Malang dan Surabaya. Targetnya? Menggadai strategi digital, memperkuat pengawasan, dan membawa pulang resep jitu menaikkan kepatuhan wajib pajak!
Tim ini bukan main-main. Turut serta Kepala Bidang Hotel, Restoran & Hiburan, Irvan Parlindungan Lubis, dan Kepala Bidang Parkir, Reklame, Penerangan Jalan, Air Tanah, Sarang Burung Walet & Retribusi Daerah, Ibrahim Mangara Laut. Mereka datang dengan misi: copas inovasi, lalu eksekusi di Medan.
Bapenda Kota Malang sudah 100% nontunai sejak 2021. Sistem pajak berbasis digital mereka terintegrasi dengan aplikasi Point of Sales (POS) yang mampu memantau transaksi makanan & minuman secara real time. Hasilnya? Penerimaan Pajak Barang dan Jasa Tertentu (PBJT) sektor kuliner meroket!
Tak hanya itu, Malang punya senjata rahasia Program Gebyar Sadar Pajak (GSP). Mekanismenya sederhana—unggah bukti transaksi, dapat kesempatan ikut undian berhadiah.
Efeknya? Masyarakat jadi sadar pajak tanpa paksaan. Data menunjukkan program ini efektif mendongkrak kepatuhan.
Dari sisi pengawasan, Malang terbilang sadis. Lebih dari 1.000 perangkat e-tax dipasang di objek pajak. Satpol PP dan Kejaksaan ikut turun tangan menindak wajib pajak nakal. Hasilnya? PAD Malang terus bergerak naik.
Surabaya tak kalah canggih. Digitalisasi layanan pajak sudah merata dari pembayaran PBB online, QRIS untuk pajak parkir, hingga CCTV berbasis Artificial Intelligence (AI) yang mengawasi transaksi wajib pajak secara langsung. Bayangkan, CCTV tak hanya memantau keamanan, tapi juga menghitung omzet usaha!
Bapenda Surabaya juga mengembangkan Program Satu Data yang mengintegrasikan data sektoral (pariwisata, perparkiran, restoran, dll) untuk memudahkan pengawasan dan kebijakan berbasis bukti.
Yang lebih mencengangkan: aplikasi perpajakan dikembangkan sendiri oleh SDM internal. Efisien, fleksibel, dan tak tergantung vendor.
Penagihan piutang pajak pun dilakukan bersama Kejaksaan Negeri. Hasilnya? Tunggakan pajak turun signifikan.
Apa yang dibawa pulang tim Pansus PAD Medan? Sistem digital yang terintegrasi, pengawasan berbasis AI, serta program insentif seperti GSP yang bisa langsung diadopsi.
Kunjungan ini menjadi bahan evaluasi bagi Bapenda Medan untuk memperkuat sistem perpajakan daerah, meningkatkan kepatuhan, dan mengejar PAD yang lebih modern, transparan, dan efektif. (Rel)