Bobby Ubah Wajah Olahraga Sumut: Tak Lagi Sekadar Prestasi, Tapi Jadi Industri Bernilai Ekonomi

111

MEDAN — Sebuah gebrakan besar tengah digulirkan di Bumi Tanah Deli. Pemerintah Provinsi Sumatera Utara di bawah kepemimpinan Gubernur Muhammad Bobby Afif Nasution tengah mengubah paradigma lama pengelolaan olahraga.

Tak lagi sekadar mencetak atlet berprestasi, olahraga kini didorong menjadi industri mandiri yang bernilai ekonomi tinggi.

Visi ini diusung sebagai bagian dari persiapan menyongsong Indonesia Emas 2045, di mana seluruh sektor, termasuk olahraga, diproyeksikan menjadi tulang punggung ekonomi nasional.

“Pengembangan olahraga di Sumut ini menuju ke arah industri. Tidak hanya sekadar pembinaan, tapi juga melaksanakan even olahraga. Sehingga olahraga bisa menghidupi dirinya sendiri,” ujar Bobby saat menghadiri Pelantikan Pengurus Persatuan Gateball Seluruh Indonesia (PERGATSI) Sumut, Jumat (26/7/2026) malam.

Menurutnya, di negara-negara maju, olahraga bukan hanya hiburan, melainkan ekosistem ekonomi yang utuh. Atlet yang pensiun pun tetap bisa berkarya dan sejahtera di ekosistem ini, tidak sekadar mencari kerja di BUMD atau menganggur.

“Ketika olahraga menjadi industri, maka olahraga bisa hidup dengan sendirinya dan berdiri di atas kaki sendiri,” tegasnya.

Kunci dari transformasi ini adalah penerapan Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) di lingkungan Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Sumut. Kepala Dispora Sumut, M. Mahfullah Pratama Daulay, menjelaskan bahwa Sumut menjadi pelopor di Indonesia dalam pengelolaan venue olahraga pasca PON dengan sistem ini.

Baca Juga : Rico Resmi Buka Open Turnamen Pencak Silat IPSI 2026: 674 Atlet Siap Bertarung Demi Lestarikan Budaya Bangsa!

“Sumut akan menjadi pelopor pengelolaan venue olahraga pasca PON, dengan sistem BLUD,” tegas Mahfullah.

Skema BLUD memungkinkan pendapatan dari fasilitas olahraga langsung dikelola kembali untuk kebutuhan pembinaan dan perawatan, tanpa harus menunggu proses APBD yang panjang.

Ini analog dengan pengelolaan rumah sakit daerah, di mana retribusi digunakan untuk biaya operasional.

Dispora Sumut saat ini mengelola aset olahraga megah bertaraf internasional, antara lain:
· Stadion Utama Sumut di Sport Center Deli Serdang, dibangun dengan biaya Rp587 miliar dan kapasitas 25.750 penonton.
· Stadion Madya dan Stadion Mini Pancing
· Kolam renang dan gedung serbaguna
· Berbagai venue pendukung PON XXI Aceh-Sumut 2024

Saat ini, objek retribusi yang dikelola baru lima jenis. Namun ke depan, akan diperluas menjadi 34 objek retribusi.

Fasilitas baru yang akan dipungut retribusi mencakup arena boling, fasilitas biliar standar nasional, peralatan olahraga, hingga kendaraan operasional cabang olahraga.

“Kajian sudah selesai. Semua fasilitas yang ada akan dimaksimalkan sehingga mampu menghasilkan pendapatan yang nantinya digunakan kembali untuk pengembangan olahraga,” ujar Mahfullah.

Target besar dicanangkan: September 2026 menjadi tonggak penerapan penuh sistem BLUD, setelah seluruh regulasi pendukung, termasuk Peraturan Gubernur tentang tata kelola keuangan, selesai diproses.

Mahfullah optimistis dalam dua tahun ke depan, kebutuhan operasional olahraga seperti listrik, pemeliharaan venue, sarana dan prasarana dapat ditopang dari hasil pengelolaan industri olahraga.

Transformasi ini bukan sekadar perubahan pengelolaan keuangan. Yang dibangun adalah ekosistem industri olahraga yang utuh:
1. Event Olahraga – Penyelenggaraan kejuaraan nasional dan internasional
2. Hak Komersial – Pemanfaatan hak siar dan sponsor pertandingan
3. UMKM – Pengembangan pelaku usaha di kawasan olahraga
4. Kolaborasi – Kerja sama dengan organisasi olahraga seperti KONI, PERGATSI, dan KORMI

“Kita ingin di tahun 2045, olahraga menjadi salah satu sumber utama ekonomi baru. Mulai dari desa hingga provinsi, kegiatan olahraga harus bisa menggerakkan perputaran ekonomi lokal,” tegas Bobby.

Mahfullah menegaskan tidak ada perubahan nama Dinas Pemuda dan Olahraga menjadi Dinas Industri Olahraga.

“Namanya tetap Dispora. Yang kita bangun adalah ekosistem industri olahraga, sehingga olahraga bisa menghasilkan pendapatan dan hasilnya kembali untuk olahraga,” katanya.

Dengan langkah berani ini, Sumatera Utara tak hanya mencetak atlet handal, tetapi juga membangun masa depan di mana olahraga menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru yang berkelanjutan.

Sebuah visi yang membawa olahraga Tanah Batak menuju panggung industri, sejajar dengan negara-negara maju di dunia. (Rel)