MEDAN – Hamparan warna-warni kebaya dari berbagai corak Nusantara membanjiri Lapangan Benteng Medan, Jumat (24/7/2026).
Ribuan perempuan dari berbagai organisasi, majelis taklim, hingga komunitas di Sumatera Utara berkumpul dalam satu semangat: merayakan sekaligus menggaungkan kebaya sebagai identitas budaya bangsa.
Peringatan Hari Kebaya Nasional ke-3 ini mengusung tema “Pesona Kebaya Indonesia untuk Dunia” sebuah ajakan untuk menumbuhkan kebanggaan masyarakat, terutama generasi muda, agar menjadikan kebaya sebagai bagian dari warisan budaya yang patut dilestarikan.
Puncak acara ditandai dengan pelepasan Parade Berkebaya oleh Martinijal Zakiyuddin Harahap, istri Wakil Wali Kota Medan. Prosesi pengguntingan pita dan pelepasan balon ke udara menjadi simbol dimulainya rangkaian peringatan di Sumatera Utara.
Sejak pukul 07.00 WIB, Lapangan Benteng telah dipenuhi peserta yang tampil anggun mengenakan beragam model kebaya dari gaya klasik hingga kreasi modern yang tetap mempertahankan nilai-nilai tradisi Nusantara. Kehadiran mereka menjadikan kawasan tersebut dipenuhi nuansa budaya yang kental.
Acara turut dihadiri Bunda Indah selaku Pembina Perempuan Indonesia Maju (PIM), jajaran Pengurus KOWANI, Pembina Berkebaya Pusat, para konsul negara sahabat, majelis taklim se-Sumatera Utara, kader TP PKK Kota Medan, serta berbagai organisasi perempuan dan elemen masyarakat.
Dalam sambutannya, Bunda Indah menegaskan bahwa penetapan 24 Juli sebagai Hari Kebaya Nasional bukan sekadar seremoni tahunan.
Tanggal tersebut merujuk pada Kongres Wanita Indonesia (KOWANI) ke-10 tahun 1964, di mana perempuan dari berbagai daerah hadir mengenakan kebaya sebagai simbol persatuan dan kesatuan bangsa.
Peringatan ini bertujuan menumbuhkan pemahaman masyarakat terhadap sejarah, nilai, dan filosofi luhur yang terkandung dalam kebaya sebagai warisan budaya bangsa.
Kebaya sendiri telah diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia sebuah pencapaian yang menegaskan bahwa kebaya bukan sekadar pakaian, melainkan identitas, kreativitas perempuan, dan jalinan sejarah Asia Tenggara.
May Aritonang, Ketua Panitia yang juga menjabat sebagai Ketua DPC PIM Medan, menyatakan bahwa peringatan ini tidak hanya menjadi ajang pelestarian budaya, tetapi juga mendukung penguatan ekonomi lokal.
Panitia menyediakan stan pameran secara gratis bagi pelaku UMKM untuk mempromosikan produk unggulan mereka sebuah langkah strategis memperkenalkan produk-produk terbaik Sumatera Utara kepada masyarakat yang lebih luas sekaligus mendorong roda perekonomian.
Semarak kebaya di Lapangan Benteng menjadi bukti nyata bahwa warisan budaya leluhur terus hidup, bergerak, dan relevan di tengah perkembangan zaman. Dari Medan, pesona kebaya Indonesia melangkah ke dunia. (Rel)