Wiriya Alrahman Tutup 34 Tahun Karier dengan Warisan Kepemimpinan
MEDAN — Ada yang berbeda di Lobi Kantor Wali Kota Medan, Rabu (29/7/2026) sore itu. Bukan sekadar seremoni pelepasan purna tugas.
Ada haru yang mengalir pelan, tawa kecil yang terselip di antara jabat tangan, dan rasa hormat yang terpancar dari mata para pejabat yang hadir.
Sebab, hari itu adalah panggung terakhir Wiriya Alrahman sebagai Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Medan— setelah 34 tahun mengabdi sejak 1992.
Namun Wali Kota Medan, Rico Waas, menolak menyebut ini sebagai “akhir”. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa purna tugas hanyalah pergantian babak, bukan titik final pengabdian.
“Pak Sekda telah melalui berbagai proses, mulai dari pembangunan hingga pembenahan tata kelola pemerintahan,” ujarnya dengan nada penuh apresiasi.
Yang membuat momen ini begitu istimewa adalah pengakuan Rico Waas bahwa warisan terbesar Wiriya bukanlah fisik bukan gedung atau program melainkan lahirnya banyak pemimpin baru di lingkungan Pemko Medan.
“Beliau tidak hanya meninggalkan karya, tetapi juga mencetak banyak pemimpin melalui arahan dan nasihat yang membentuk karakter para pejabat hari ini,” tegas Rico.
Sebuah pernyataan yang menggeser paradigma: bahwa birokrat sejati diukur dari seberapa banyak pemimpin yang ia lahirkan, bukan sekadar seberapa tinggi jabatan yang ia raih.
Wiriya sendiri, dalam sambutan baliknya, memilih untuk tidak membanggakan pencapaian individual. Ia justru merendah dan menekankan satu kata kunci kekompakan.
Menurutnya, tanpa soliditas seluruh jajaran—dari pimpinan, kepala OPD, camat hingga ASN—tidak ada amanah yang bisa dijalankan dengan maksimal.
“Kepercayaan adalah hal yang paling mendasar. Tanpa kepercayaan, kita tidak mungkin bisa melangkah lebih jauh,” ucapnya, memberi pesan diam-diam tentang fondasi birokrasi yang sehat.
Acara yang dihadiri para Staf Ahli, Asisten, Kepala Bagian, Dirut PUD, dan seluruh Camat se-Medan ini ditutup dengan penyerahan cenderamata dari Rico Waas kepada Wiriya Alrahman.
Diiringi salaman hangat di halaman kantor, satu pesan terakhir disampaikan Rico: “Sekarang waktunya Pak Sekda menikmati waktu luang. Kalau kemarin belum bisa jalan-jalan, sekarang kalau mau keliling Indonesia sudah bisa. Kami mendoakan semoga Pak Sekda senantiasa sehat, sukses, dan selalu dalam lindungan Allah SWT.”
Di balik pintu Balai Kota yang perlahan tertutup, Wiriya Alrahman pergi dengan satu kepastian namanya mungkin tak lagi terpampang di papan nama, tetapi jejak kepemimpinannya akan terus hidup di setiap ASN yang pernah ia bimbing.
Selamat purna tugas, Pak Sekda. Warisan Anda bukan tembok, melainkan manusia. (Rel)