8 Cara Elegan Menanggapi Komentar Soal Tubuh Saat Acara Keluarga Tanpa Tersinggung

51

MEDAN – Pernahkah Anda merasa tidak nyaman saat seorang kerabat mulai mengomentari penampilan atau berat badan Anda saat acara keluarga? Fenomena ini sering terjadi dalam dinamika keluarga Indonesia, terutama pada momen-momen pertemuan seperti hari raya, reuni, atau arisan keluarga.

Komentar seperti “Kurusan, ya?” atau “Kok, makannya cuma sedikit?” meski kerap dibungkus candaan atau kepedulian, dapat meninggalkan luka emosional yang dalam dan mengganggu hubungan seseorang dengan makanan serta citra dirinya.

Lantas, bagaimana cara terbaik untuk merespons tanpa terkesan defensif sekaligus melindungi kenyamanan diri sendiri? Berdasarkan wawancara dengan para psikolog dan ahli gizi yang dikutip dari SELF Magazine, berikut 8 strategi komunikasi yang elegan dan efektif.

1. Alihkan Percakapan dengan Lembut

“Aku sedang berusaha tidak terlalu fokus pada bentuk tubuh. Kita bahas hal lain saja, ya.”

Mengapa ini efektif: Menurut Amber Stevens, Psy.D., psikolog klinis, respons ini mengakui niat baik lawan bicara sekaligus dengan tegas mengalihkan topik pembicaraan ke area yang lebih netral.

2. Normalisasi Perubahan Tubuh

“Semua tubuh berubah seiring waktu, dan itu wajar.”

Mengapa ini efektif: Kalimat ini berfungsi sebagai edukasi ringan yang menormalisasi fakta biologis. Ini membantu mematahkan budaya membandingkan tubuh tanpa terkesan menggurui.

3. Tetapkan Batasan dengan Jelas

“Aku enggak nyaman membahas soal tubuh hari ini. Kita nikmati waktu saja, yuk.”

Mengapa ini efektif: Julia Carter, LCSWA, terapis citra tubuh, menegaskan bahwa menetapkan batasan bukanlah sikap kasar. Justru, ini adalah cara sehat untuk mengajari orang lain bagaimana memperlakukan kita.

4. Fokus pada Kenyamanan Diri Sendiri

“Iya, makanannya enak. Aku sudah cukup kenyang sekarang.”

Mengapa ini efektif, Ahli gizi Kate Regan, RD, menyarankan respons singkat dan percaya diri yang berfokus pada kondisi internal diri, tanpa perlu pembenaran panjang yang melelahkan.

5. Beri Jawaban Netral untuk Komentar Soal Porsi Makan

“Aku suka ambil porsi banyak, tapi juga senang kalau masih ada sisa.”

Mengapa ini efektif Katy Gaston, RD, ahli gizi lainnya, menyebut respons ini praktis dan dapat meredam situasi. Ingat, Anda tidak punya kewajiban untuk menjelaskan pilihan makan kepada siapa pun.

6. Ubah Narasi Seputar Olahraga

“Aku senang olahraga, tapi bukan untuk menghukum diri karena makanan.”

Mengapa ini efektif: Respons ini menggeser makna olahraga dari “alat penebusan dosa” menjadi aktivitas yang dilakukan atas dasar cinta dan rasa senang terhadap tubuh sendiri.

7. Tegas dan Netral untuk Topik Medis

“Aku senang kalau itu cocok buatmu, tapi itu bukan pilihanku.”

Mengapa ini efektif: Saat topik seperti obat penurun berat badan (misal: GLP-1) muncul, Debra Safer, MD, psikiater, menekankan bahwa keputusan medis adalah hal privat. Jawaban ini tegas namun tetap sopan.

8. Arahkan Fokus ke Hubungan Internal

“Aku bangga kok, sekarang lebih bisa mendengarkan kebutuhan tubuhku.”

Mengapa ini efektif: Ketika komentar terasa menyakitkan, mengalihkan fokus kepada hubungan yang Anda bangun dengan tubuh sendiri adalah bentuk perlindungan diri dan afirmasi yang kuat.

Inti dari semua respons di atas adalah mengambil kendali atas percakapan dan menciptakan ruang aman untuk diri sendiri.

Komunikasi yang asertif dan penuh empati tidak hanya melindungi kesehatan mental Anda, tetapi juga berpotensi mengedukasi keluarga besar untuk berinteraksi dengan cara yang lebih positif dan suportif.

Dengan mempraktikkan cara-cara elegan ini, momen kumpul keluarga bisa kembali menjadi ajang silaturahmi yang hangat, bebas dari penilaian yang tidak diundang. (Red)

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com