MEDAN — Terobosan komunikasi publik lahir di tengah hiruk-pikuk birokrasi Kota Medan. Wali Kota Medan, Rico Waas, secara terbuka membuka saluran komunikasi pribadi melalui WhatsApp bagi para anggota DPRD Medan untuk menyampaikan aspirasi dan keluhan warga.
Langkah ini pun langsung mendapat respons dari legislatif: janji itu harus ditagih.
Anggota DPRD Medan dr Faisal Arbie, M.Biomed, mengapresiasi sekaligus mengingatkan komitmen Wali Kota tersebut.
“Kita tagih janji Wali Kota Medan, menyebut kesediaannya akan segera menindaklanjuti segala aspirasi masyarakat Kota Medan. Baik secara langsung maupun lewat pesan WA,” ujar politisi Partai NasDem itu menyikapi pernyataan Rico Waas dalam Rapat Kerja (Raker) DPRD Medan, kemarin.
Ajakan itu disampaikan Rico Waas saat membuka Raker DPRD Kota Medan dalam rangka penyusunan program kerja tahun 2027 di The Hill Hotel Resort, Sibolangit.
Di hadapan para anggota dewan, orang nomor satu di Pemko Medan itu menyatakan jika ada masalah atau aspirasi masyarakat yang diterima di dapil masing-masing, WA saja saya. Akan kami bantu tindaklanjuti segera.
Langkah ini bukan sekadar gimmick politik. Rico Waas menegaskan bahwa pola kerja pemerintahan ke depan tidak cukup hanya berjalan baik, tetapi harus semakin responsif, dekat dengan masyarakat, serta mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi.
Pernyataan ini sejalan dengan komitmennya menjadikan Medan sebagai kota pintar (smart city) yang berbasis transformasi digital.
Lebih dari sekadar saluran aduan, Rico Waas mengajak DPRD Medan merancang langkah konkret mengoptimalkan seluruh potensi Kota Medan. Kolaborasi ini diarahkan untuk menjawab tiga persoalan mendasar kemiskinan, pendidikan, dan kesehatan.
“Mari kita maksimalkan semua potensi. Sama-sama kita berkontribusi mengatasi segala masalah terkait kemiskinan, pendidikan, dan kesehatan,” ucapnya.
Wali Kota juga mendorong penguatan sinergi Pemko Medan dengan DPRD dalam merancang strategi peningkatan pertumbuhan ekonomi.
Menurut Faisal Arbie, sikap keterbukaan Rico Waas yang membuka ruang komunikasi langsung dengan anggota DPRD patut didorong.
Hal ini sangat dibutuhkan untuk peningkatan pembangunan Kota Medan demi kesejahteraan warga.
“Anggota dewan adalah perpanjangan tangan rakyat di dapil masing-masing,” tegas anggota Komisi II DPRD Medan tersebut.
Rico Waas menekankan bahwa peningkatan pertumbuhan ekonomi harus menjadi barometer capaian pembangunan. Untuk mewujudkannya, dibutuhkan kerja sama tidak hanya antara DPRD dan Pemko Medan, tetapi juga dengan masyarakat melalui pengembangan investasi.
“Yang penting menjadi barometer adalah capaian target pertumbuhan ekonomi. Untuk itu perlu kerja sama, bukan hanya DPRD dengan Pemko Medan, tetapi juga masyarakat. Pengembangan investasi juga sangat penting,” ucapnya.
Faisal Arbie, yang akrab disapa warga di Dapil 3 Kota Medan, konsisten menyuarakan kepentingan rakyat. Sebelumnya, ia juga menyoroti pendistribusian bantuan sosial yang belum tepat sasaran serta mendorong peningkatan layanan kesehatan.
Kini, dengan dibukanya jalur WhatsApp oleh Wali Kota, Faisal menegaskan kesiapan legislatif untuk mengawal setiap aspirasi yang masuk.
“Kita tagih janji Wali Kota Medan,” tegasnya—sebuah pernyataan yang menjadi pengingat bahwa transparansi dan akuntabilitas adalah fondasi tata kelola pemerintahan yang baik.
Langkah Rico Waas membuka pintu komunikasi digital ini bisa menjadi model bagi daerah lain di Indonesia.
Di tengah tuntutan pelayanan publik yang semakin cepat, inovasi sederhana namun berdampak seperti ini layak diapresiasi—asalkan ditindaklanjuti dengan aksi nyata. Warga Medan kini menunggu akankah janji di WhatsApp berubah menjadi perubahan di jalanan? (FD)